Tindakan otoriter oknum admin berinisial A.G ini langsung memantik kegaduhan dan keprihatinan mendalam dari tokoh masyarakat, termasuk Mang Subang, yang mengaku sangat kecewa berat. Publik kini bertanya-tanya dengan nada curiga:
Ada apa dengan AG? Apakah sang admin ikut kecipratan aliran "salam tempel" atau menjadi benteng pelindung para mafia proyek revitalisasi di Subang?
Padahal, dalam narasi berita yang dibagikan tersebut, sama sekali tidak ada satu kata pun yang menyenggol atau menyinggung nama personal sang admin. Sikap "kebakaran jenggot" yang dipertontonkan AG justru menjadi blunder besar yang memperkuat spekulasi bahwa ada konspirasi gurita kepentingan yang coba disembunyikan rapat-rapat dari endusan publik!
Borok Proyek Revitalisasi Disdik Subang: Kepala Sekolah Jadi "Tumbal" Audit BPK RI
Sebelum insiden pengusiran jurnalis tersebut terjadi, pemberitaan yang disebarkan memang menguliti habis borok pelaksanaan proyek fisik di tubuh Disdikbud Subang. Berdasarkan laporan dari salah satu aktivis lokal, tercium aroma busuk berupa intervensi paksaan terhadap Kepala Sekolah SDN untuk masuk ke dalam lingkaran permainan P2SP (Panitia Pembangunan Sekolah Mandiri).
Ironisnya, alih-alih meningkatkan mutu pendidikan, proyek revitalisasi ini justru berjalan ugal-ugalan dan diduga kuat dikondisikan oleh oknum Dewan Pendidikan yang keluar dari tupoksinya demi memburu setoran proyek. Akibat intervensi dan pemaksaan metode pelaksanaan yang tidak normatif ini, sejumlah Kepala Sekolah kini kena getahnya hingga kelimpangan menghadapi dampak Audit ketat dari Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) RI. Para pahlawan tanpa tanda jasa di tingkat sekolah tersebut kini terancam menjadi tumbal hukum atas keserakahan para oknum pejabat di atasnya!
Pembungkaman Pers atau Ketakutan yang Nyata?
Aksi pembersihan jurnalis dari grup yang seyogyanya menjadi wadah informasi publik Kabupaten Subang ini dinilai sebagai bentuk nyata dari pembungkaman kebebasan pers di Subang. Saat angka-angka nominal proyek dan hasil audit BPK RI mulai mengapung ke permukaan, ada pihak-pihak yang panik setengah mati hingga menggunakan tangan admin grup untuk memotong jalur penyebaran informasi.
Hingga berita ini diturunkan, inisial A.G mendadak jadi sorotan utama dan perbincangan hangat di kalangan jurnalis lokal. Publik menuntut transparansi: Apakah AG murni bertindak karena sentimen pribadi, ataukah ada "remot kontrol" dari oknum dinas yang memerintahkannya demi meredam gejolak korupsi revitalisasi agar tidak semakin meluas? Kasus ini kini tidak hanya sekadar isu korupsi anggaran pendidikan, melainkan sudah menjelma menjadi rapor merah bagi kemerdekaan berekspresi di Kabupaten Subang!
Reporter. : Ujang Suryana





0 Komentar